Ancaman Senyap: Dampak Degradasi Lahan terhadap Ketahanan Pangan
Dampak degradasi lahan merupakan ancaman senyap namun serius yang secara perlahan menggerogoti fondasi ketahanan pangan global, khususnya di Indonesia. Kerusakan lahan produktif akibat erosi, salinisasi, hilangnya kesuburan tanah, dan urbanisasi, secara langsung mengurangi kemampuan bumi untuk menghasilkan makanan yang cukup bagi populasi yang terus bertumbuh. Jika tidak ditangani secara serius, fenomena ini dapat memicu krisis pangan di masa depan.
Salah satu dampak degradasi lahan yang paling kentara adalah menurunnya produktivitas pertanian. Tanah yang subur adalah prasyarat utama untuk pertumbuhan tanaman yang sehat. Ketika lapisan atas tanah yang kaya nutrisi tergerus oleh erosi air atau angin, atau ketika tanah menjadi terkontaminasi bahan kimia, kemampuan tanah untuk menopang kehidupan tanaman berkurang drastis. Sebuah studi yang diterbitkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI, sekarang BRIN) pada 15 Januari 2024 menunjukkan bahwa rata-rata penurunan produktivitas lahan pertanian di beberapa wilayah di Jawa akibat erosi mencapai 5-10% setiap dekade. Hal ini secara langsung mengancam pasokan bahan pangan pokok seperti padi dan jagung.
Selain itu, dampak degradasi lahan juga memperparah kerentanan petani. Ketika lahan tidak lagi produktif, pendapatan petani menurun, memaksa mereka mencari mata pencarian lain atau bermigrasi ke perkotaan. Ini bukan hanya menimbulkan masalah sosial, tetapi juga mengurangi jumlah produsen pangan. Di beberapa daerah, seperti yang tercatat oleh Dinas Pertanian setempat pada 20 Mei 2025, terjadi penurunan jumlah petani aktif hingga 8% dalam lima tahun terakhir akibat lahan yang tidak lagi layak tanam atau beralih fungsi.
Pemerintah dan berbagai pihak terus berupaya mengatasi masalah ini melalui program rehabilitasi lahan, konservasi tanah dan air, serta edukasi petani tentang praktik pertanian berkelanjutan. Program penanaman pohon di daerah tangkapan air dan pembangunan terasering di lahan miring adalah beberapa contoh upaya mitigasi. Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), misalnya, pada 12 Februari 2025, melaporkan keberhasilan restorasi 50.000 hektar lahan gambut kritis yang sempat terdegradasi, yang diharapkan dapat mengembalikan fungsi ekologisnya sebagai penopang ketahanan pangan dan penyerap karbon. Mengatasi dampak degradasi lahan bukan hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan kolaborasi lintas sektor untuk masa depan pangan yang lebih aman.